Tampilkan postingan dengan label penyimpangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyimpangan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2016

3 Jenis Cabe-Cabean


Pada artikel kali ini saya akan membahas mengenai cabe-cabean. Tetapi bukan cabe-cabean yang sering anda gunakan sebagai bumbu masakan. 



Cabe-cabean adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan gadis-gadis dibawah umur yang mulai merintis bisnis prostitusi atau pelacuran. Pada awalnya "cabe-cabean" ini adalah sebutan untuk perempuan ABG yang menjadi bahan taruhan di arena balap liar. 

Pada saat sekarang ini, ada 3 jenis "cabe-cabean', yakni : 

1. Cabe Ijo 
"Cabe ijo" yang memiliki kelas tertinggi dari kelas "cabe-cabean" itu merupakan gadis di bawah umur yang berusia sekitar 14-17 tahun. Tak sedikit dari mereka yang merupakan siswa sekolah menengah atas (SMA), bahkan beberapa ada yang masih berada di sekolah menengah pertama. 

Mereka memiliki gaya busana yang modis dan trendi, tetapi tidak menonjol. Berbeda dengan "cabe-cabean" lainnya, "cabe ijo" hanya dapat dijumpai di beberapa pusat perbelanjaan kelas atas ataupun lokasi-lokasi gaul di bilangan Jakarta. Kebanyakan mereka ditemui secara berkelompok dan hanya memilih pelanggan yang sudah dikenalnya lewat media sosial, seperti Twitter dan Facebook.

"Cabe ijo" juga aktif di media sosial. Mereka kerap memasang foto-foto dengan pose tertentu dan informasi tarif di akun media sosial mereka. Mereka bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) untuk memenuhi kebutuhan tersier seperti membeli pakaian, telepon genggam, sehingga tidak mudah bagi pelanggan untuk menyewa jasanya karena harus melalui tahapan pendekatan. Pendekatan, di antaranya, bisa berupa mem-follow akun Twitter-nya, kerap me-retweet atau rajin memberikan komentar.


2. Cabe Merah
 "cabe merah" adalah PSK yang berusia 16-19 tahun. "Cabe merah" sedikit lebih menonjol karena berani mengenakan pakaian mini dan menonjolkan lekuk tubuh. Mereka pun kerap menghabiskan waktu di minimarket ataupun klub-klub malam di Jakarta. "Cabe merah" relatif lebih mudah dicari. Mereka biasanya beroperasi sesuai jam operasional klub, mulai pukul 22.00-03.00. Transaksinya juga jelas, tinggal ditanya, langsung jalan.



3. Cabe Oranye
"cabe oranye". Tipe ini biasanya berkumpul di taman, arena parkir liar, ataupun pinggir jalan. Pada beberapa kesempatan, "cabe-cabean" ini menggunakan berbagai modus untuk menjaring pelanggan, mulai dari mengamen ataupun ikut para pembalap liar. "Cabe oranye" menjadikan ini sebagai profesi tetap








Kamis, 23 Juni 2016

Penyebab Trauma Pada Anak 

Anak biang masalah? Jangan terburu-buru menyudutkan sebagai anak tak berguna. Ayah dan Ibu lebih baik melakukan koreksi diri karena siapa tahu akar masalah berasal dari anda. Kok bisa ??




Anak tidak dilahirkan untuk jadi “biang kerok” karena lingkungan-lah yang membentuk pribadi seperti itu.

Situasi emosi anak semasa kecil sangat berkiblat dari sikap ayah dan ibu. Anak yang hidup di tengah orangtua yang tidak harmonis, hampir sebagian besar, tumbuh menjadi anak bandel.

Walhasil anak akan mencari berbagai cara untuk keluar dari ketidakharmonisan di dalam rumah.

Bila Ayah dan Ibu cepat sadar kalau anak jadi bandel karena situasi rumah, jangan putus asa untuk merangkul anak lagi.

Ajak anak bicara dari hati ke hati. Berilah penjelasan bahwa Ayah dan Ibu kerap bertengkar bukan berarti keluarga akan berpisah, tetapi lebih kepada untuk menyamakan pendapat.

Di luar menghadapi masalah itu, segeralah perbaiki komunikasi antara ayah dan ibu sehingga kuantitas pertengkaran bisa dikurangi.

Masalah menjadi rumit di saat anak semakin tak bisa dikendalikan sementara orangtua bukan berdamai malah semakin sering ribut.

Anak akhirnya dikhawatirkan jadi trauma. Dia bingung memilih antara yang sikap benar atau salah. Apalagi jika Ayah maupun Ibu saling menyalahkan atas kenakalan anak. Secara psikologis, anak akan makin tertekan.

Kalau sudah begitu perlu bantuan psikolog untuk menolong anak keluar dari traumanya.

Apakah artikel diatas membantu anda ? Terima kasih sudah membaca dan ditunggu komentarnya 

Baca juga : Si Manusia Sampah



Sabtu, 18 Juni 2016

Skizofrenia Paranoid



Skizofrenia paranoid adalah salah satu tipe skizofrenia di mana penderitanya mengalami delusi bahwa orang lain sedang bersekongkol melawan dirinya atau anggota keluarganya. Paranoid juga merupakan jenis skizofrenia dengan jumlah kasus kejadian paling banyak.




Kebanyakan penderita skizofrenia paranoid mengalami halusinasi suara, di mana mereka mendengar suara-suara yang tidak nyata. Umumnya, mereka juga mengalami delusi bahwa diri mereka lebih hebat, lebih kuat, serta punya pengaruh besar daripada  kenyataannya.

Penderita skizofrenia paranoid akan menghabiskan banyak waktunya untuk memikirkan cara melindungi diri dari musuh-musuh khayalan mereka. Dengan penanganan yang benar serta dukungan dari orang terdekat, biasanya pengidap kondisi ini punya kemungkinan sembuh yang besar.

Gejala adalah sesuatu yang dirasakan dan diceritakan oleh penderita. Gejala-gejala utama yang dirasakan oleh penderita skizofrenia paranoid adalah:
- Halusinasi suara.
- Merasa cemas, curiga, berhati-hati, dan suka menyendiri.
- Gangguan persepsi.
- Merasa dirinya lebih hebat dari kenyataan (delusi kebesaran).
- Delusi paranoid yang rutin dan stabil.
- Mengalami perasaan cemburu tidak realistis (delusi cemburu).

Selain gejala-gejala utama, penderita skizofrenia paranoid juga mengalami beberapa gejala ringan yaitu:
- Suasana hati yang tidak stabil (tapi gejalanya disini lebih ringan dibanding pada skizofrenia jenis lain).
- Terobsesi dengan kematian, sekarat, atau kekerasan.
- Merasa terperangkap atau putus asa.
- Mengucapkan salam perpisahan yang tidak biasa.
- Mendata orang-orang terdekat untuk membagikan barang-barang pribadi.
- Meningkatnya konsumsi minuman keras atau obat-obatan.
- Berubahnya pola tidur dan makan.

Dua faktor yang menyebabkan disfungsi otak tersebut adalah faktor keturunan dan lingkungan. Sedangkan pemicu utama munculnya skizofrenia sendiri adalah stres dan trauma.

Selain faktor keturunan, ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang berisiko terkena skizofrenia paranoid, yaitu:
- Penyalahgunaan obat-obatan.
- Infeksi virus dan malnutrisi, yang terjadi pada janin.
- Usia saat mengandung. Orang tua yang mengandung ketika sudah berusia lanjut punya risiko lebih tinggi untuk melahirkan anak dengan skizofrenia.
- Stres pada usia muda, bisa menjadi faktor pendukung munculnya skizofrenia.
Kekerasan atau trauma saat masih anak-anak.

Diagnosis merupakan langkah dokter untuk mengidentifikasi penyakit atau kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda yang dialami oleh pasien. 

Untuk mendiagnosis skizofrenia paranoid, dokter akan menjalankan beberapa pemeriksaan seperti:
1.Pemeriksaan fisik dan tes darah (terutama untuk membuktikan adanya gangguan tiroid, kadar alkohol, dan obat-obatan).
2.Tes pencitraan, termasuk MRI dan CT scan untuk memeriksa apakah terdapat luka di otak atau ketidaknormalan pada struktur otak.
3.Uji EEG (elektroensefalografi), untuk menguji fungsi otak penderita.
4.Evaluasi psikologis. Psikiater akan bertanya pada penderita tentang pikiran, perasaan, serta perilaku penderita.
5.Pengambilan sampel neuron dari hidung penderita. Molekul mikro RNA yang ada di dalam neuron akan diuji di laboratorium.

Penderita membutuhkan penanganan rutin dan terus menerus, sebab skizofrenia paranoid merupakan penyakit mental kronis. 

Beberapa jenis penanganan untuk penderita skizofrenia paranoid adalah:
- Pemberian obat-obatan. Jenis yang diberikan umumnya adalah obat antipsikotik atipikal, antipsikotik tipikal, antidepresan, anti cemas, atau penstabil mood.
- Perawatan di Rumah Sakit Jiwa. Jika gejala semakin parah, maka penderita harus ditangani di Rumah Sakit Jiwa agar kebutuhan nutrisi serta istirahat bisa dipantau dan dipenuhi.
- Terapi elektrokonvulsif (ECT). Penanganan ini digunakan bagi penderita yang mengalami gejala depresi parah dan penderita yang punya risiko tinggi bunuh diri.
- Pelatihan keterampilan dan bersosialisasi. Penderita akan dilatih untuk hidup higienis, mengonsumsi makanan bernutrisi, dan memiliki komunikasi yang lebih baik.

Semoga artikel diatas dapat menambah wawasan anda mengenai apa dan bagaimana menangani Skizofrenia Paranoid, terima kasih sudah membaca dan ditunggu komentarnya.

Baca juga : Hidup Adalah Anugerah 

Senin, 13 Juni 2016

ASD

ASD (Autism Spectrum Disorder)



Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan yang memengaruhi interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku. ASD melingkupi sindrom Asperger dan autisme pada masa kanak-kanak. Apa itu sebenarnya Autisme ? Silahkan baca selengkapnya dibawah ini ya 




Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, diperkirakan ada sekitar 2,4 juta orang penyandang autisme di Indonesia pada tahun 2010. Jumlah penduduk Indonesia pada saat itu mencapai 237,5 juta jiwa, berarti ada sekitar satu orang penyandang autisme pada setiap 100 bayi yang lahir.

Meski autisme tidak bisa disembuhkan, ada berbagai jenis penanganan dan langkah pengobatan yang bisa membantu para penyandang autisme. Karena itu, penting bagi kita untuk mewaspadai gejalanya sedini mungkin.

Ada beberapa faktor genetika dan lingkungan yang diperkirakan dapat menyebabkan kelainan ini, tetapi penyebab autisme yang pasti belum diketahui hingga saat ini. Dalam kasus-kasus tertentu, autisme juga mungkin disebabkan oleh penyakit tertentu.

Vaksin campak, gondong, dan rubela (MMR) pernah dicurigai sebagai penyebab autisme sehingga banyak orang tua yang enggan memberikannya pada anak mereka. Tetapi setelah melakukan berbagai penelitian ekstensif yang melibatkan jutaan anak, para peneliti sama sekali tidak menemukan bukti yang menghubungkan vaksin MMR dan autisme.

Gejala autisme biasanya baru terlihat jelas setelah terjadi perubahan signifikan dalam kehidupan seseorang dan umumnya mulai berkembang pada masa kanak-kanak. Gejala-gejalanya cenderung bervariasi pada tiap penyandang, tapi dapat dikelompokkan menjadi dua kategori utama.

Kategori pertama adalah gangguan interaksi sosial dan komunikasi. Gejala ini meliputi gangguan pemahaman dan kepekaan terhadap perasaan orang lain serta penguasaan bahasa yang lamban.

Kategori kedua adalah pola pikir, minat, dan perilaku yang terbatas dan bersifat mengulang. Contoh gerakan repetitif, misalnya mengetuk-ngetuk atau meremas tangan, dan merasa kesal saat rutinitas tersebut terganggu.

Penyandang autisme juga cenderung memiliki masalah dalam belajar dan kondisi kejiwaan lain, misalnya gangguan hiperaktif atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan kecemasan, atau depresi.

Gejala autisme biasanya diketahui pada usia awal perkembangan anak sebelum mencapai tiga tahun. Hubungi dokter jika Anda menyadari adanya gejala autisme atau gangguan perkembangan pada diri Anda maupun anak Anda.

Semoga artikel ini dapat menambah wawasan anda tentang autisme, terima kasih sudah membaca dan ditunggu komentarnya.





Minggu, 12 Juni 2016

Depresi 


Depresi adalah suasana hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu. Ketika mengalami depresi kita akan merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulunya menghibur, dan menyalahkan diri sendiri. Silahkan dibaca ulasan selengkapnya dibawah ini ya 






Akibat depresi, kegiatan sehari-hari seperti bersekolah atau bekerja menjadi tidak menyenangkan. Bahkan untuk mempertahankan hubungan dengan orang lain maupun keluarga sendiri terasa begitu berat. Depresi bisa membuat Anda merasa hidup ini tidak ada gunanya, bahkan dapat memicu penderita untuk melakukan bunuh diri.

Terdapat hampir satu juta orang di dunia melakukan bunuh diri akibat depresi. Diperkirakan dari dua puluh orang yang berniat untuk melakukan bunuh diri, satu orang dari mereka berakhir tewas.

Gejala dan juga pengaruh depresi berbeda-beda pada berbagai orang. 

Berikut ini adalah beberapa gejala psikologi yang muncul akibat depresi:
- Kehilangan selera untuk menikmati hobi.
- Merasa bersedih secara berkepanjangan.
- Mudah merasa cemas.
- Merasa hidup tidak ada harapan.
- Mudah menangis.
- Merasa sangat bersalah.
- Tidak percaya diri.
- Menjadi sangat sensitif atau mudah marah terhadap orang di sekitar.
- Tidak ada motivasi untuk melakukan apa pun.

Gejala fisik akibat depresi:
- Badan selalu merasa lelah.
- Gangguan pada pola tidur.
- Merasakan berbagai rasa sakit.
- Tidak berselera untuk melakukan hubungan seksual.

Tanpa penanganan dan pengobatan yang tepat, depresi bisa mengganggu hubungan dengan orang di sekitar Anda. Untuk depresi yang berat atau parah, depresi bisa berakibat pada hilangnya hasrat untuk hidup dan keinginan untuk bunuh diri.

Ketika merasakan beberapa gejala depresi yang bertahan lebih dari beberapa hari, segera menemui dokter agar proses pemulihan bisa dimulai dan dilakukan sepenuhnya.

Depresi terpicu oleh kombinasi beberapa faktor. Jika di dalam riwayat kesehatan keluarga Anda terdapat orang yang menderita depresi, maka terdapat kecenderungan bagi Anda untuk mengalaminya juga. 

Beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya depresi antara lain:
- Kejadian tragis atau signifikan seperti kehilangan seseorang atau pun pekerjaan.
- Melahirkan.
- Masalah keuangan.
- Terisolasi secara sosial.
- Trauma masa kecil.
- Ketergantungan terhadap narkoba dan/atau alkohol.

Selain hal-hal di atas, beberapa kondisi medis juga bisa memicu depresi pada penderitanya seperti penyakit jantung koroner, kelenjar tiroid yang kurang aktif, dan akibat cedera pada kepala sebelumnya.

Terima kasih sudah membaca artikel ini, semoga bisa menambah wawasan anda.


Sabtu, 11 Juni 2016

ODD(Oppositional Defiant Disorder)



ODD atau Oppositional Defiant Disorder adalah salah satu gangguan perilaku pada anak serta remaja. Anak yang mengalami kondisi ini umumnya akan menunjukkan sikap yang meliputi marah-marah, uring-uringan, membantah, atau sering berdebat dengan figur otoritas (misalnya orang tua, pengasuh, maupun guru). Bagaimana gejala awalnya dan cara mengatasinya? Silahkan dibaca dibawah ini ya 




ODD termasuk gangguan yang sulit terdeteksi karena gejalanya yang sukar dibedakan dengan kondisi anak yang sedang rewel atau uring-uringan secara umum. ODD juga sering dialami oleh pasien bersamaan dengan gangguan perilaku lain sehingga sulit diketahui.

Jika anak Anda lebih sering mengalami gejala-gejala ODD dibandingkan dengan teman-teman seusianya, Anda sebaiknya membawanya ke dokter agar bisa diperiksa. Jangan menunda pemeriksaan ke dokter karena ODD yang dibiarkan begitu saja akan memengaruhi aktivitas dan kemampuan belajar anak. Misalnya, nilai yang buruk di sekolah atau muncul sikap antisosial.

Gejala ODD biasanya muncul pada anak sebelum usia sekolah yang kemudian akan mengganggu proses belajar serta keakraban dalam keluarga. 

Gejala-gejala tersebut bisa meliputi:
- Sering marah.
- Mudah tersinggung.
- Sering berdebat atau membantah orang dewasa atau figur otoritas.
- Tidak mau menuruti perintah.
- Sengaja memancing emosi orang lain.
- Kerap menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri.
- Sering membenci dan mendendam, biasanya lebih dari dua kali dalam enam bulan.
- Menggunakan kata-kata sumpah serapah.
- Kerap mengatai orang lain dengan kata-kata yang kejam.
- Memiliki kepercayaan diri yang rendah.
- Mudah frustrasi.

Penyebab ODD belum diketahui secara pasti. Meski demikian, para pakar menduga ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi risiko seseorang untuk mengidap gangguan ini. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi:
- Faktor fisik, misalnya kelainan atau cedera pada otak yang mungkin memicu gangguan ini.
- Pengaruh genetika. Anak dengan anggota keluarga yang mengidap gangguan kejiwaan lain seperti ADHD, depresi, atau kecemasan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami ODD.
- Dampak lingkungan. Situasi keluarga seorang anak juga diduga berpengaruh, contohnya orang tua dengan disiplin yang berlebihan, anak yang diabaikan oleh orang tuanya, atau orang tua yang mendidik secara kasar.

Orang tua juga bisa menerapkan cara-cara berikut guna membantu anak ODD, yakni sbb :
- Memberi contoh perilaku yang ingin Anda terapkan pada anak.
- Memberikan instruksi atau petunjuk secara spesifik agar jelas.
- Memuji perilaku positif anak, misalnya memuji anak yang sudah membereskan mainannya.
- Membangun rutinitas sehari-hari yang konsisten.
- Hindari hal-hal yang bisa memicu perdebatan dengan anak.
- Meluangkan waktu khusus untuk menemani anak.
- Memberikan tugas rumah agar anak terbiasa. Awali dengan tugas ringan lalu perlahan-lahan kombinasikan dengan tugas yang lebih berat setelah anak berhasil menyelesaikan tugas ringannya.
- Bekerjasama dengan pasangan atau anggota keluarga lain, atau dengan guru sekolahnya untuk menetapkan batas-batas disiplin yang sama. Dan harus konsisten saat menerapkannya.

Baca juga : Dimana Kesadaran Diri Berada

Jumat, 10 Juni 2016

BDP (Borderline Personality Disorder)



Borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang adalah sebuah kondisi yang muncul akibat terganggunya kesehatan mental seseorang. Kondisi ini berdampak pada cara berpikir dan perasaan terhadap diri sendiri maupun orang lain,  serta adanya pola tingkah laku abnormal. Silahkan baca ulasannya yang saya rangkum dari berbagai sumber dibawah ini




Penderita BPD dapat memiliki perasaan takut ditinggalkan, ditolak, cemas, marah, merasa tidak berarti, dan kecenderungan menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Tindakan impulsif, perubahan mood yang sering terjadi, serta rendahnya citra diri ini menyebabkan penderita kesulitan mempertahankan hubungan yang berkomitmen dan bertahan lama.

BPD dapat menimbulkan gangguan fungsi seseorang menjalankan kehidupan sehari-hari dan hubungan interpersonal dengan sekitarnya. Gangguan ini umumnya muncul pada periode menjelang usia dewasa, namun dapat juga membaik seiring bertambahnya usia

Gejala-gejala yang dapat muncul antara lain:
- Merasa takut diabaikan sehingga membuat penderitanya menghindari perpisahan, kritik, atau penolakan.
- Perubahan citra dan identitas diri yang berlangsung dengan cepat sehingga memengaruhi nilai-nilai dan tujuan yang diketahuinya. Penderita BPD dapat memandang dirinya sebagai sosok yang buruk, menyerupai sosok antagonis di dalam sebuah film.
- Mengalami periode stres yang memicu paranoia, serta kehilangan hubungan dengan kenyataan yang dapat berlangsung hingga beberapa jam.
- Mengalami perubahan suasana hati yang berlangsung hingga berhari-hari.
- Memiliki perilaku impulsif yang berisiko dan terkadang berbahaya, seperti judi, hubungan seksual yang tidak aman, mengemudi dengan ceroboh, atau boros. Seseorang dengan BPD dapat berhenti dari pekerjaannya tanpa alasan yang jelas atau mengakhiri hubungan asmara yang pada dasarnya baik.
- Mudah kehilangan kesabaran dan menjadi sangat marah hingga dapat memicu pertengkaran atau perkelahian. 
- Pada suatu momen dapat menghormati atau menyayangi seseorang, namun kemudian berubah dan menganggap orang tersebut sebagai sosok yang buruk.
- Merasakan kekosongan secara psikologis yang berlangsung terus-menerus.
- Dapat berperilaku menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri sebagai reaksi dari penyaluran amarah, menghukum diri sendiri, rasa takut ditinggalkan, atau penolakan.

Penyebab pasti BPD belum dapat diketahui dengan jelas. Diperkirakan riwayat pelecehan atau penyiksaan yang dialami semasa kecil memiliki keterkaitan dengan terjadinya BPD.

Hal lain yang juga terkait dengan BPD adalah faktor genetik. Menurut beberapa penelitian, riwayat gangguan kepribadian yang dimiliki oleh salah satu anggota keluarga kemungkinan dapat diwariskan melalui gen ke anggota keluarga lain.

Ciri kepribadian tertentu juga dapat menjadi faktor risiko berkembangnya BPD. Misalnya seseorang dengan kepribadian agresif dan impulsif. 

Segera temui dokter jika Anda menyadari kehadiran gejala-gejala kondisi ini, baik pada diri sendiri maupun pada teman dan keluarga. Bicarakan dengan teman atau anggota keluarga tentang memperoleh informasi atau bantuan dari tenaga medis profesional terkait secara baik-baik dan tanpa paksaan. 

Demikianlah ulasan mengenai BPD, semoga dapat bermanfaat bagi anda. Terima kasih sudah membaca dan ditunggu komentarnya ya.

Baca juga : Pilihan Dalam Hidup


Kamis, 09 Juni 2016

Skizofrenia

Skizofrenia sering digambarkan sebagai penyakit gila. Kondisi ini menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Oleh karena itu, penderita skizofrenia sulit dalam berinteraksi secara sosial dan beraktivitas sehari-hari. Seberapa bahaya penyakit ini ? Silahkan baca dibawah ini ya





Perilaku sosial yang tertutup dan perubahan pola tidur menjadi gejala-gejala awal skizofrenia. Karena penyakit ini biasanya mulai berkembang pada usia remaja, gejala-gejala tersebut hanya dianggap sebagai perubahan tingkah laku remaja.

Para ahli belum menemukan penyebab skizofrenia. Diduga faktor lingkungan serta genetika berperan dalam pembentukan kondisi ini.

Di Indonesia sendiri, banyak orang yang belum memahami atau bahkan mengenali skizofrenia. Sebagian besar penduduk di negara ini, terutama di pelosok-pelosok desa, kerap mengaitkan kondisi ini sebagai akibat dari kerasukan makhluk halus. Oleh sebab itu banyak penderita skizofrenia di Indonesia yang tidak terdiagnosis, hingga tidak mendapatkan pengobatan yang layak.

Skizofrenia yang merupakan penyakit gangguan jiwa berat ini, diidap sekitar 24 juta penduduk dunia. Dan usia rentan kondisi ini berkisar antara 15 hingga 35 tahun.

Skizofrenia sebaiknya didiagnosis sedini mungkin. Makin cepat masalah kesehatan jiwa ini ditangani, peluang sembuhnya makin besar, dan penderitanya bisa kembali hidup secara normal.

Gejala skizofrenia dibagi dalam dua kategori, yaitu gejala negatif dan positif.
Gejala ‘negatif’ skizofrenia menggambarkan hilangnya sifat dan kemampuan tertentu yang biasanya ada dalam diri orang yang normal. Sedangkan gejala ‘positif’ menggambarkan tanda-tanda psikotik yang muncul dalam diri seseorang akibat menderita skizofrenia.

Gejala negatif skizofrenia biasanya sudah muncul beberapa tahun sebelum penderitanya mengalami episode akut pertama dari kondisi tersebut. Gejala negatif berkembang secara bertahap atau perlahan-lahan, hingga akhirnya menjadi semakin memburuk. 

Gejala negatif bisa berupa:
- Rasa enggan untuk bersosialisasi dan tidak nyaman berada dekat dengan orang lain sehingga lebih     memilih untuk berdiam di rumah.
- Kehilangan konsentrasi.
- Pola tidur yang berubah.
- Kehilangan minat dan motivasi baik dalam menjalin hubungan dengan orang lain maupun dalam         hidup secara keseluruhan.

Ketika penderita sedang mengalami gejala negatif, dia akan terlihat apatis dan datar secara emosi. Karena tidak sadar atau tidak tahu mengenai gejala negatif skizofrenia ini, kadang-kadang orang lain bisa menyalahartikan itu sebagai sikap malas atau tidak sopan. Mereka juga menjadi tidak peduli terhadap penampilan dan kebersihan diri mereka serta semakin menarik diri dari sosial. Karena itu gejala negatif skizofrenia bisa menjadi pemicu rusaknya hubungan penderita dengan keluarganya atau pun dengan teman-temannya.

Gejala positif skizofrenia terdiri dari:
- Halusinasi. Terjadi pada saat panca indera seseorang terangsang oleh sesuatu yang sebenarnya tidak   ada.
- Delusi. Yaitu kepercayaan kuat yang tidak didasari logika atau kenyataan yang sebenarnya.
Penting untuk mengenali gejala-gejala skizofrenia seperti di atas. Jika Anda atau keluarga Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksakan ke dokter. Makin dini skizofrenia ditangani, peluang sembuhnya akan makin besar.
Terima kasih sudah membaca artikel ini, semoga bermanfaat bagi anda.


Rabu, 08 Juni 2016

Antisocial Personality Disorder

Dulu istilah gangguan kepribadian (personality disorder) sering disebut sebagai psychopathy, artinya adalah adanya kekuranga atau gangguan dalam jiwa yang tampil dalam perilakunya sehari-hari. Pada artikel kali ini saya akan memberikan informasi tentang apa artinya penyimpangan psikologis yang satu ini, silahkan dibaca dibawah ini ya 





Personality disorder adalah gangguan-gangguan dalam perilaku yang memberikan dampak atau dinilai negatif oleh masyarakat. Pemahaman ini bersumber pada masalah perkembangan, yaitu bahwa manusia berkembang dari lahir dalam suatu proses dimana terjadi interaksi antara dirinya dengan lingkungannya. 

Proses inilah yang menyebabkan kondisi di dalam diri seseorang (inner world) menimbulkan adanya perkembangan kepribadian, termasuk didalamnya tugas-tugas perkembangan dan moralitas dalam berperilaku. Dalam personality disorder, kejadian yang tampil adalah bahwa pada suatu taraf usia tertentu individu berperilaku menurut pola perilaku anak-anak yang lebih muda atau jauh lebih muda dari usianya. Dengan kata lain pada orang tersebut, ia masih berorientasi pada diri sendiri atau kepentingannya sendiri. 

Personality disorder (gangguan kepribadian) merupakan pola yang menetap (long-standing pattern) yang menyagkut perilaku, pikiran, dan perasaan yang sangat maladaptif (highly maladaptive) bagi individu maupun orang-orang disekitarnya. 

Sedangkan menurut PPDGJ-III gangguan kepribadian khas adalah suatu gangguan berat dalam konstitusi karakteriologis dan kecenderungan perilaku dari seseorang, biasanya meliputi beberapa bidang dari kepribadian, dan hampir selalu berhubungan dengan kesulitan pribadi dan sosial. 

Gejala Orang-orang dengan gangguan kepribadian memiliki ciri-ciri :
- Hubungan pribadinya dengan orang lain terganggu dalam arti sikap dan perilakunya cenderung merugikan orang lain.
- Tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap orang lain, bersikap manipulatif atau senang mengakali, mementingkan diri sendiri, tidak punya rasa bersalah, dan tidak mengenal rasa sesal bila mencelakakan orang lain.
- Selalu menghindari tanggung jawab atas masalah-masalah yang mereka timbulkan.
- Memandang bahwa semua kesulitannya oleh nasib buruk atau perbuatan jahat orang lain, dengan kata lain, penderita gangguan ini tidak pernah merasa bersalah.
- Orang dengan gangguan kepribadian tidak pernah dapat menjelaskan diri dari pola perilaku tingkah lakunya yang adaptif.

Tipe-tipe personality disorder sangat bervariasi karena menyangkut permasalahan sosial. Akan tetapi, secara umum dapat digolongkan dalam tiga kelompok, yaitu :
1. Cluster I
Personality disorder yang bersifat paranoid, schizoid, dan schizotypal.
2. Cluster II
Personality disorder yang bersifat histrionik, narcisistic, antisosial, borderline.
3. Cluster III
Personality disorder yang bersifat avoidence, dependent, obsessive-compulsive, dan passive-agresive. 


Selasa, 07 Juni 2016

Anorexia Nervosa (AN)



Anoreksia nervosa (AN) adalah sebuah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang. Mengapa penyimpangan psikologis ini dikatakan berbahaya, silahkan dibaca ya 




anoreksia ditandai oleh ketakutan yang tidak wajar terhadap kemungkinan mengalami kenaikan berat badan dan kehilangan kemampuan mengontrol makan. Para penderita anoreksia bangga akan diet dan kontrol ekstra keras yang dilakukannya.

Ciri ciri Anoreksia Nervosa meliputi :

* Tidak mau mempertahankan berat badan pada level normal atau sedikit di atas normal
* Ketakutan bahwa berat badan akan naik
* Menganggap berat badannya sudah ideal
* tidak mengalami menstruasi.

Meskipun berkurangnya berat badan adalah ciri yang paling jelas terlihat pada anoreksia nervosa, tetapi sesungguhnya hal itu bukan inti gangguannya. Banyak orang kehilangan berat badan akibat kondisi medis tertentu, tetapi penderita anoreksia memiliki ketakutan yang intens terhadap obesitas dan berusaha keras untuk menjadi kurus.
Olah raga berat, yang nyaris seperti menghukum diri sendiri, juga lazim dilakukan. Berkurangnya berat badan secara dramatis diperoleh dengan membatasi asupan kalori.

Seorang penderita anoreksia tidak pernah puas dengan penurunan berat badannya. Berat badan yang tetap antara hari ini dan keesokan harinya atau setiap penambahan berat badan dapat mengakibatkan kepanikan, kecemasan dan depresi.

Biasanya mereka pintar memilih ucapan yang ingin di dengar orang lain. Mereka mungkin mengatakan setuju bahwa berat badannya memang kurang dan perlu menambah, tetapi sesungguhnya ia tidak mempercayainya.

Ketika memandangi tubuhnya di cermin, ia melihat sosok yang sangat berbeda dengan apa yang dilihat oleh orang lain. Orang lain melihatnya sebagai gadis yang kurus kering dan lemah, seperti seorang penderita kelaparan, sedang yang bersangkutan melihatnya sebagai gadis yang perlu mengurangi berat badannya...


Mungkin untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu mengontrol makanannya, sebagian penderita anorekssia menunjukkan minat yang besar pada masak memasak dan makanan. Sebagian menjadi juru masak yang handal, yang menyiapkan makanan untuk seluruh keluarganya. Sebagian lainnya menimbun makanan di kamarnya dan memandanginya dari waktu ke waktu.

Tanda dan gejala medis anoreksia lainnya termasuk kulit kering, rambut dan kuku yang rapuh dan sensitif terhadap dingin

Demikianlah informasi mengenai AN (Anorexia Nervosa) yang saya rangkum dari berbagai sumber, semoga artikel ini dapat menambah wawasan anda. Terima kasih dan ditunggu komentarnya.


Senin, 06 Juni 2016

Self Harm/ Self Injuries


Ketika sedang merasa marah, frustasi serta kepedihan emosi lain, ada dorongan yang sangat kuat untuk mengambil pisau kemudian melukai lengannya sendiri hingga berdarah-darah. Sesudahnya, emosinya seolah-olah kembali mereda. mengerikan bukan?




Penyimpangan psikologis yang satu ini dikatakan sebagai penyimpangan yang berbahaya. karena pelaku kebiasaan ini dengan sengaja melukai diri sendiri sebagai cara untuk mengatasi rasa sakit emosi, amarah, dan frustasi. Biasanya kepedihan emosi yang mereka rasakan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Orang yang suka melukai diri cenderung bertindak secara sembunyi-sembunyi karena sangat malu pada kebiasaannya. Mereka pintar menyembunyikan bekas lukanya agar tidak ada yang tahu, karena mereka tidak bermaksud memanfaatkan luka atau memar untuk mencari perhatian.

Namun, ada seseorang yang dulu memiliki kebiasaan ini mengakui bahwa ia sering berharap ada yang menyadari bekas lukanya agar kebiasaannya bisa segera ketahuan dan cepat mendapat bantuan.

Orang yang suka menyakiti diri hampir pasti memiliki jejak atau tanda di tubuhnya, dan dapat juga dikenali dari perilakunya. Biasanya terdiri dari:

- Ada bekas luka, seperti luka sayatan atau luka bakar
- Terdapat luka, goresan/cakaran, atau memar yang masih baru
- Menderita patah tulang
- Menyimpan atau memegang benda tajam di tangan
- Sering mengenakan baju berlengan panjang dan celana panjang, bahkan ketika   cuaca panas
- Mengaku sering mengalami kecelakaan atau terjatuh
- Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menyendiri
- Kesulitan dalam memperdalam hubungan antar pribadi
- Sering mempertanyakan identitas diri, misalnya “Siapa saya?” atau “Apa   yang saya lakukan di          sini?”
- Emosional dan tidak dapat diprediksi perilakunya
- Sering menyatakan bahwa dirinya tidak berdaya, putus asa atau tidak   berharga

Jika Anda merasa ada orang terdekat atau anggota keluarga yang dicurigai memiliki kebiasaan melukai diri, sebaiknya dekati dia dengan lembut dan bantu dia untuk mencari bantuan. Anda dapat menjadi tempat curhat baginya agar dia tidak perlu menyakiti diri sendiri untuk menenangkan emosinya.

Semoga artikel ini dapat menambah wawasan anda, terima kasih telah membaca dan ditunggu komentarnya.



Minggu, 05 Juni 2016

LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, & Transgender)


Apakah anda sering mendengar kata LGBT ? Tentu saja, pada zaman sekarang kata ini cukup terkenal dikalangan masyarakat. Ingin tahu lebih jelas tentang LGBT ini silahkan baca dibawah ini ya




Singkatan LGBT berasal dari 4 kata utama yakno Lesbian , Gay , Biseksual dan Transgender . dari masing masing nama atau sebutan tersebut mengandung makna sendiri sendiri dan berbeda beda , dan berikut penjelasannya .

Lesbian : istilah ini menggambarkan hubungan terlarang yang melibatkan sesama wanita . pada umum nya ketertarikan pasangan itu kan Pria ke wanita atau sebaliknya .

Gay : G wakil dari kata Gay , istilah ini dipake untuk gambarkan seorang pria yang tertarik dengan sesama pria atau sering dinamai Homoseks .

Biseksual : sedangkan inisial B yang mewakili biseksual adalah penjelasan dari seseorang yang tak hanya tertarik ke lawan jenis namun juga ke sesama jenis , jadi bisa masuk lesbian ataupun Homo (tertarik sesama pria )

Transgender : ini lebih rumit lagi karena dirinya merasa bahwa naluri , jiwa , kepribadiannya tidak sama dengan jenis kelamin yang ia miliki sejak lahir, misal terlahir Pria namun dia merasa dirinya wanita, dan sebaliknya .

Tidak semua golongan masyarakat bisa menerima komunitas ini, tetapi pada kenyataanya mereka ada disekitar kita tanpa kita sadari. Bagaimana anda harus menyingkapi fenomena penyimpangan psikologis ini ? Semua tergantung pilihan apakah anda akan mengucilkan mereka atau anda akan  menerima mereka sebagai bagian dari kemajemukan masyarakat.

Terima kasih sudah membaca artikel ini, ditunggu komentarnya 

Baca juga : Surat Zhuge Liang Kepada Anaknya


Sabtu, 04 Juni 2016

OCD

OCD (Obsessive Compulsive Disorder)



Gangguan obsesif kompulsif atau yang lebih sering dikenal dengan singkatan OCD adalah kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. Kelainan ini ditandai dengan pikiran dan ketakutan tidak masuk akal (obsesi) yang dapat menyebabkan perilaku repetitif (kompulsi). Untuk tahu lebih jelasnya mengenai OCD ini, silahkan dibaca dibawah ini :




Gejala OCD yang muncul pada tiap penderita berbeda-beda. Ada yang ringan di mana penderita menghabiskan sekitar satu jam bergelut dengan pikiran obsesif dan perilaku kompulsifnya, tapi ada juga yang parah mengalami gangguan ini hingga mengendalikan hidupnya.

Penderita OCD juga umumnya terpuruk dalam pola pikiran dan perilaku tertentu. Ada empat tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu obsesi, kecemasan, kompulsi, dan kemudian kelegaan sementara.

Obsesi muncul saat pikiran penderita terus dikuasai oleh rasa ketakutan atau kecemasan. Kemudian obsesi dan rasa kecemasan akan memancing aksi kompulsi di mana penderita akan melakukan sesuatu agar rasa cemas dan tertekan dikurangi. Perilaku kompulsif tersebut akan membuat penderita merasa lega untuk sementara, tetapi obsesi serta kecemasan akan kembali dan membuat penderita mengulangi pola tersebut.

Sifat perfeksionis berbeda dengan gejala OCD. Menjaga kebersihan serta kerapian yang berlebihan bukan berarti Anda menderita OCD. Pikiran OCD bukan hanya sekadar rasa cemas yang ekstrim tentang masalah dalam kehidupan. Jika obsesi dan kompulsi sudah menghambat rutinitas, periksakan diri ke dokter atau psikolog.

Langkah Pengobatan dan Komplikasi OCD


Tingkat pengobatan OCD bergantung kepada sejauh apa dampak OCD yang Anda alami dalam kehidupan Anda. Ada beberapa langkah dalam penanganan OCD, yaitu:

 1. Terapi perilaku kognitif (CBT). Terapi ini dapat membantu Anda untuk mengurangi kecemasan dengan mengubah cara pikir dan perilaku Anda.
 2. Penggunaan obat-obatan untuk mengendalikan gejala yang Anda alami.
Mencari bantuan medis adalah hal terpenting bagi penderita OCD karena mereka memiliki kemungkinan untuk sembuh atau setidaknya untuk menikmati hidup dengan mengurangi gejalanya.

Jika tidak ditangani, perasaan tertekan dapat bertambah parah dan membuat penderita makin sulit untuk menghadapi OCD sehingga mengalami depresi. Tingkat depresi yang parah bahkan dapat memicu dorongan untuk bunuh diri.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda, terima kasih sudah membaca.
Ditunggu komentarnya




Jumat, 03 Juni 2016

10 Gangguan Psikologi Yang Bisa Membahayakan Orang Lain (2)


Baca juga artikel sebelumnya  : 10 Gangguan Psikologi Yang Bisa Membahayakan Orang Lain (1)


Pada artikel sebelumnya, saya sudah memberikan 5 penyakit kejiwaan yang berbahaya. Silahkan baca kelanjutannya dibawah ini ya :




6. Anorexia nervosa
Definisi : Anorexia Nervosa adalah gangguan pola makan, orang mengalami gangguan ini merasa tidak puas dengan penurunan berat badannya. Hal inilah yang menyebabkan penderita anoreksia nervosa ini juga mengalami suatu gangguan kecemasan dan depresi yang intens.

Ciri-ciri umum penderita
- Tidak mau mempertahankan berat badan pada level normal atau sedikit di atas normal
- Ketakutan intens bahwa berat badan akan naik
- Evaluasi yang tidak pas terhadap berat badan atau bentuk tubuhnya sendiri, atau mengingkari             keseriusan berat tubuhnya yang saat ini kurang
- Amenorrhea (tidak mengalami menstruasi)
- pada banyak kasus pasien Anorexia Nervosa akan mengalami permasalahan kesehatan/                       metabolisme tubuh, mal nutrisi yang pada akhirnya berujung pada kematian   penderitanya.

7. Multiple Identity Disorder
Definisi : Gangguan identitas disosiatif adalah gangguan jiwa yang mengakibatkan terbentuknya dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Masing-masing individu dengan ingatan sendiri, kepercayaan, perilaku, pola pikir, serta cara melihat lingkungan dan diri mereka sendiri. Setidaknya dua kepribadian ini secara berulang memegang kendali penuh atas tubuh si individu.

Ciri-ciri umum penderita:
- Penderita mengalami perasaan tidak nyata, merasa terpisah dari diri sendiri baik secara fisik                maupun mental.
- Penderita merasa tidak mendiami tubuh mereka sendiri dan menganggap diri sebagai orang yang         asing atau tidak nyata.
- Mengalami distorsi waktu, amnesia, dan penyimpangan waktu
- Berubah-ubahnya kondisi penderita terjadi saat satu kepribadian bertukar dengan kepribadian lain.
- Sakit kepala dan keinginan bunuh diri

8. Self harm/self injures
Definisi : Self injury adalah suatu perilaku yang dilakukan seseorang untuk mengatasi rasa sakit emosional dengan cara melukai diri sendiri.

Ciri-ciri umum penderita :
- Selalu menghindari masalah
- Sulit mengendalikan emosi
- Kurang mampu mengurus diri sendiri
- Tidak berfikir logis (pemikirannya kaku)
- Tidak menyukai dirinya sendiri
- Tidak suka akan perubahan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman baru
- Hipersensitif terhadap penolakan
- Memiliki perasaan agresif yang tinggi
- Biasanya pelaku mengalami depresi dan stres berat
- Sering mengalami  iritabilitas

Berdasarkan realitasnya kita temui pasien yang mengalami masalah kejiwaan ini dapat menikmati saat ia melukai dirinya atau dengan cara melukai diri/mengancam membunuh diri  untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.Self harm/self injures

Definisi : Self injury adalah suatu perilaku yang dilakukan seseorang untuk mengatasi rasa sakit emosional dengan cara melukai diri sendiri.

Ciri-ciri umum penderita :
- Selalu menghindari masalah
- Sulit mengendalikan emosi
- Kurang mampu mengurus diri sendiri
- Tidak berfikir logis (pemikirannya kaku)
- Tidak menyukai dirinya sendiri
- Tidak suka akan perubahan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman baru
- Hipersensitif terhadap penolakan
- Memiliki perasaan agresif yang tinggi
- Biasanya pelaku mengalami depresi dan stres berat
- Sering mengalami  iritabilitas

Berdasarkan realitasnya kita temui pasien yang mengalami masalah kejiwaan ini dapat menikmati saat ia melukai dirinya atau dengan cara melukai diri/mengancam membunuh diri  untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.

9. Homosexual

Definisi : homoseks adalah mengacu pada interaksi seksual dan atau romantis antara pribadi yang berjenis kelamin sama.

Homoseksualitas merupakan salah satu penyimpangan perkembangan psikoseksual. homoseksual dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang kuat akan daya tarik erotis seseorang justru terhadap jenis kelamin yang sama. Istilah homoseksualitas atau Gay lebih lazim digunakan bagi pria yang menderita penyimpangan ini, sedang bagi wanita, keadaan yang sama disebut “lesbian”.

Ciri-ciri umum penderita:
-  Memiliki rasa yang berlebihan kepada sesama jenis, seperti, mengagumi, rasa suka, sayang dst.
- Memiliki kelainan dalam perilaku yang tidak sesuai dari kodratnya.-  Tidak memiliki hasrat                 terhadap lawan jenis.
- Memegang teguh pada waham dan delusinya.
- memiliki sensitifitas yang sangat berlebihan.
- Kesulitan dalam melepaskan diri dari trauma masa lalu.
- Kesulitan dalam mengontrol emosi dan hasrat seksual.
- Merasakan kesan berbeda (erotis) ketika bergaul dengan sesama jenis dan Kesulitan dalam menjalin   hubungan dengan lawan jenis

Perilaku penyimpangan seksual ini  sangat bertentangan dari sisi naluriah/kodrati, etika sosial, nilai-nilai keagamaan  dan membahayakan bagi eksistensi ummat manusia. Pada kasus tertentu pasien yang mengalami masalah kejiwaan ini dapat melakukan segala cara, seperti intimidasi, kekerasan fisik atau teror kepada pasangan sejenisnya agar senantiasa menuruti kemauannya.

10. Antisosial  Personality Disorder
Definisi : Gangguan kepribadian antisosial sering disebut sebagai sociopathy dalam budaya populer. Individu dengan antisosial Personality Disorder sering kurang empati dan cenderung tidak berperasaan, sinis, dan menghina perasaan, hak, dan penderitaan orang lain.

Ciri-ciri umum penderita :
-  Kegagalan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial yang berkaitan dengan perilaku         yang sah seperti yang ditunjukkan oleh berulang kali melakukan tindakan yang dasar untuk                penangkapan
- Tipu daya , seperti ditunjukkan oleh berulang berbohong, penggunaan alias, atau menipu orang lain    untuk keuntungan pribadi atau kesenangan
-  Impulsif atau kegagalan untuk merencanakan ke depan
-  Lekas marah dan agresivitas , seperti yang ditunjukkan oleh perkelahian fisik berulang atau                serangan
-  Mengabaikan  keselamatan diri sendiri atau orang lain
- Konsisten tidak bertanggung jawab , seperti yang ditunjukkan oleh kegagalan berulang untuk              mempertahankan perilaku kerja yang konsisten atau menghormati kewajiban keuangan
- Kurangnya penyesalan , seperti ditunjukkan oleh acuh tak acuh atau rasionalisasi.

Berikut ini adalah saran saya jika anda menemui permasalahan seperti diatas :
1. Lakukan konsultasi ke Psikiater atau Psikolog  untuk menganalisa masalah sebenarnya yang               dialami, untuk  kemudian  diberikan saran-saran  tindakan terapi dan obat yang tepat.
2. Sebagai terapi pendukung Pasien disarankan menjalankan program terapi holistik seperti : Ruqyah,      Akupunktur, Bekam, Totok Syaraf, Hipnoterapi dst
3. Pasien diwajibkan menjalani program perbaikan mental-psikis , kedisiplinan, dan pendalaman             keagamaan.

Terima kasih sudah membaca, ditunggu komentarnya 


Kamis, 02 Juni 2016

10 Gangguan Psikologi Yang Bisa Membahayakan Orang Lain (1)



Berikut ini adalah beberapa jenis dari gangguan kejiwaan yang paling berpotensi membahayakan, melukai atau mengancam  jiwa si-pasien serta orang lain disekitarnya, kenalilah ciri-cirinya dan lakukan tindakan terapi yang tepat. Diantara puluhan atau ratusan jenis gangguan kejiwaan saya sampaikan 10 daftar teratas penyakit kejiwaan yang paling berbahaya, silahkan dibaca dibawah ini 






1. Skizofrenia


Definisi : Skizofrenia adalah gangguan psikologis/kejiwaan yang disebabkan oleh kelainan secara kimiawi pada otak,  yang pada akhirnya mengganggu fungsi sistemik dan impuls syaraf otak.  kondisi ini mengakibatkan kegagalan fungsi otak dalam mengolah informasi dari dan ke panca indera,  sehingga timbul  proyeksi yang tidak seharusnya.

Ciri-ciri umum penderita skizofrenia :
- Munculnya halusinasi baik secara visual, pendengaran atau proyeksi ingatan masa lalu, dll
- Tingkah laku abnormal & berdasarkan insting.
- Delusi adalah keyakinan bahwa seseorang seolah-olah mengalami sesuatu ( alam khayal)
- Komunikasi kacau, suka menyendiri dan tidak dapat dikontrol.


2. Psikopat


Definisi : Psikopat berasal dari kata psyche (jiwa) dan pathosi (penyakit). Secara harfiah, psikopat berarti sakit jiwa. Namun, psikopat tak sama dengan kegilaan (skizofrenia/psikosis), sebab seorang psikopat umunya disebut “Sosiopat”, karena prilakunya yang antisosial yang merugikan orang-orang terdekat tanpa empati sedikitpun, meski mereka menyadari seluruh perbuatannya.

Ciri-ciri umum penderita Psikopat :
- Pandai menciptakan kebohongan yang sempurna
- Memiliki kemampuan menguasai emosi orang lain bahkan memanipulasinya.
- Lemah dalam mengontrol emosi dan mampu menyimpan dendam dalam waktu yang lama,                 menunggu ada kesempatan untuk membalas.
- Cerdas, serta pandai memanipulasi ekspresi .
- Tidak memiliki empati (respon) atas rasa sakit atau kedukaan orang lain.
- Memiliki egoisme tinggi

Meski tidak semua psikopat itu menjadi pembunuh berdarah dingin, tetapi pada kenyataanya mereka selalu menjadi sumber masalah dikomunitasnya.  Contoh lain psikopat adalah koruptor.

3. Obsesif Compulsif Disorder


Definisi : Obsesif Kompulsif Disorder (OCD) adalah gangguan otak dan perilaku. OCD menyebabkan kecemasan yang parah pada mereka yang terkena dampak. OCD melibatkan kedua obsesi dan dorongan  yang mengambil banyak waktu dan mendapatkan di jalan kegiatan penting nilai-nilai orang.

Ciri-ciri umum penderita:
- Melakukan tindakan yang berulang-ulang
- Selalu resah, Penderita OCD tidak dapat lepas dari resah cemas, tertekan dan merasa tidak nyaman     dengan keadaan ini.
- Pikiran dan tindakan tersebut tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau kesenangan,                   melainkan disebabkan oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres yang                         dirasakannya.
- Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku) sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus dalam             beberapa kali setiap harinya.

Obsesi dan kompulsi menyebabkan terjadinya tekanan dalam diri penderita dan menghabiskan waktu (lebih dari satu jam sehari) atau secara signifikan mengganggu fungsi normal seseorang, atau kegiatan sosial atau suatu hubungan dengan orang lain.

Pada kasus gangguan OCD tertentu dan sangat berbahaya adalah ketika pasien  terobsesi untuk melukai diri dan orang lain, untuk itu pihak keluarga dan pendamping harus ekstra selektif dalam memberikan informasi atau bahkan saat menonton televisi…

4. Skizoaffectif


Definisi :  Gangguan skizoafektif adalah kelainan mental yang rancu yang ditandai dengan adanya gejala kombinasi antara gejala skizofrenia dan gejala gangguan afektif (gangguan mood)

Ciri-ciri umum penderita:
- Gangguan skizoafektif memiliki ciri baik skiofrenia dan gangguan afektif ( gangguan mood).
- terjadinya gabungan gejala skizofrenia seperti : halusinasi, mendengar bisikan-bisikan,  delusi,           kekacauan komunikasi dengan gangguan afektif sepertikecemasan, depresi, kesedihan, amarah atau   juga histeria

Pasien dengan masalah skizo-afektif ini merupakan tipikal yang paling berbahaya dan lebih berpotensi untuk melakukan bunuh diri dari pada jenis skizofrenia yang lain.

5. Bipolar Disorder


Definisi : Gangguan bipolar, adalah gangguan otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa dalam suasana hati, energi, tingkat aktivitas, dan mempengaruhi kemampuan untuk melaksanakan aktifitas sehari-hari. juga dikenal sebagai penyakit manik-depresif.

Ciri-ciri umum penderita :
- Bipolar adalah gangguan/kelainan secara kimiawi pada sistem syaraf otak yang mempengaruhi mood atau suasana hati, seperti kegembiraan atau kesedihan (depresi) yang mendalam,  bersifat ekstrim (perubahannya sangat cepat) dan menetap (bertahan dalam waktu yang lama) terlebih dari itu penderita gangguan bipolar juga dapat mengalami perubahan suasana hati yang complicated /multi emosi. Gangguan bipolar dapat mengakibatkan rusaknya hubungan sosial, pekerjaan atau sekolah, dan bahkan bunuh diri.

Masih ada 5 gangguan psikologis yang berbahaya, ditunggu ya kelanjutannya di artikel selanjutnya ya . Stay tuned dan terima kasih sudah membaca.


Daftar Blog Saya

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts